Pencarian populer

Kecerdasan Buatan adalah Penemuan Terakhir Umat Manusia

Oleh: Ricky Suwarno

12 Juni 2019

Pada tahun 2017, ada berita yang mengguncangkan dunia. Cassini Orbiter telah menjelajahi luar angkasa lebih dari 6 miliar kilometer selama 20 tahun. Dan telah mengunjungi planet Saturnus atas nama umat manusia yang telah melakukan serangkaian misi eksplorasi dengan prestasi menakjubkan.

Manusia adalah Life 2.0 yang dapat merancang sistem perangkat lunak sendiri dalam batas tertentu, dan berkelanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, NASA tidak lagi antusias dengan misi berawak. Mereka cenderung tertarik menjalankan misi detektor tanpa awak yang memudahkan deteksi lebih sempurna untuk objek tata surya yang jauh.

Faktanya, baik di masa lalu, sekarang, ataupun di masa depan, hasil ilmiah dari misi tak berawak jauh lebih berhasil dibanding misi berawak. Untuk eksplorasi ruang angkasa, manusia adalah beban.

Saya sangat terinspirasi dengan buku yang baru saya tuntaskan membacanya kemarin. Life 3.0: Being Human in the Age of Artificial Intelligence”, karya Max Tegmark, seorang profesor fisika di MIT.

Max Tegmark adalah orang yang sangat menarik. Beliau adalah seorang pakar fisika yang banyak bikin penelitian tentang kecerdasan buatan. Bukunya yang lain, Our Mathematical Universe, juga sangat berhasil.

Tokoh-tokoh seperti Elon Musk, Larry Page, Bill Gates, maupun Hawking memiliki kontroversi besar tentang prospek AI. Untuk mencapai tingkat konsensus tertentu, Max Tegmark mendirikan organisasi nirlaba yang bernama “Future of Life Institute”.

Pada dasarnya, ada dua aspek kontroversi dunia tentang AI. Pertama, kapan AI dapat mencapai tingkat kecerdasan manusia, atau melampaui umat manusia? Mencapai tingkat kecerdasan manusia artinya AI memiliki kecerdasan umum yang disebut “AGI (Artificial General Intelligence atau kecerdasan umum buatan)”.

Bukan AI yang bisa bermain catur sekarang, meskipun kehebatan bermain catur lebih hebat daripada manusia. Sebab, AI sekarang masih tidak bisa mengerti lelucon manusia.

Menurut Ray Kuzwell, penulis buku Singularity is near, AGI akan segera terwujud, sekitar tahun 2049. Dan generasi kita akan dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.

Andrew Ng, ilmuwan komputer China-Amerika yang juga pemimpin global dalam AI, punya pandangan lain. Ilmuwan yang telah berkontribusi besar dalam pembelajaran mendalam tentang robot dan mesin ini berpandangan bahwa AI tidak akan terwujud dalam beberapa ratus tahun kemudian. Ibaratnya: “manusia khawatir seberapa hebat AI nantinya, dengan kelebihan populasi di planet Mars.”

Kedua, kekhawatiran apakah AI adalah gospel atau bencana bagi umat manusia? Larry Page, salah satu pendiri Google, sangat optimis. Menurutnya, AI akan membawa kesejahteraan bagi seluruh umat manusia. Namun sebaliknya, Elon Musk dan Stephen Hawking telah berulang kali mengingatkan bahwa AI adalah ancaman besar.

Kehidupan adalah sistem pemrosesan informasi yang dapat mereplikasi sendiri. “Informasi” dalam hal ini adalah blueprint untuk replikasi perangkat keras individu dan pola perilaku individu. Tubuh manusia meliputi “perangkat keras” dan “perangkat lunak”. Perangkat keras adalah tubuhnya dan informasi adalah perangkat lunaknya.

Misalnya, struktur mikroba yang bisa mereproduksi sendiri tanpa alat kelamin. DNA adalah blueprint salinan perangkat kerasnya. Pola perilakunya juga sangat sederhana, seperti halnya algoritma komputer. Jika ada banyak makanan di sekitar lingkungan saat ini, ia akan menetap sementara waktu. Dan jika cuma sedikit nutrisi yang tersisa, dia akan berpindah tempat. DNA dan algoritma perilakunya adalah perangkat lunaknya.

Life 1.0 berarti sistem perangkat keras dan sistem perangkat lunak diperbarui dan diulangi lewat evolusi. Merupakan hasil seleksi alam.

Pada dasarny, semua makhluk seperti ini, kecuali manusia. Ini adalah standar teori Evolusi Charles Darwin.

Binatang akan menjadi lebih kuat dari satu generasi ke generasi berikutnya berkat seleksi alam. Artinya, hewan dengan persyaratan terbaik, memiliki prioritas untuk meneruskan keturunannya. Sebaliknya, jika tidak, mereka akan musnah.

Life 2.0 adalah peningkatan perangkat keras yang masih mengandalkan evolusi alami. Beberapa peningkatan perangkat lunak dapat dirancang sendiri. Inilah karakteristik manusia karena manusia bisa belajar. Manusia dapat mewariskan Informasi pada keturunannya, termasuk semua DNA yang hanya berkapasitas 1,6 GB.

Jumlah informasi yang dapat disimpan di otak orang dewasa adalah 100 TB (1 TB = 1024 GB). Oleh karena itu, cara paling ideal adalah mewarisi naluri paling dasar dan meninggalkan sebagian besar keterampilan untuk dipelajari pada hari lusa.

Kapasitas otak 100 TB memungkinkan manusia menyimpan banyak informasi. Potensi untuk belajar sangat besar. Mode peningkatan perangkat lunak ini memungkinkan manusia bisa beradaptasi. Mungkin kita tumbuh di lingkungan yang berbeda dari orang tua, tetapi karena kita dapat belajar, kita dapat beradaptasi dengan lingkungan baru setiap saat.

Misalnya, ayahmu adalah seorang pemburu. Kamu memiliki gen pemburu sejak kecil. Kamu tidak bisa berburu setelah pindah ke kota. Namun, kamu bisa belajar keterampilan lain dan secara aktif beradaptasi dengan lingkungan baru.

Manusia adalah “Life 2.0”, sehingga kita dapat merancang sistem perangkat lunak sendiri dalam batas tertentu. Dan sifatnya berkelanjutan.

Life 3.0 adalah perangkat keras dan lunak yang dapat desain sendiri. AI atau kecerdasan buatan memiliki kemampuan untuk mempelajari hal-hal baru dan meningkatkan perangkat keras sendiri. Ini namanya Life 3.0.

Tentu saja, kita manusia sekarang dapat memutakhirkan perangkat keras sendiri sampai batas tertentu seperti memasang gigi palsu. Ini hanya dapat dianggap sebagai Life 2.1.

Contohnya, Ricky merasa perangkat kerasnya kurang efisien. Ricky berharap dapat menyelesaikan sebuah buku dalam beberapa detik seperti komputer. Namun, karena bandwidth perangkat input saya, misalnya mata dan telinga, sangatlah terbatas, atau daya pemahaman otak saya yang terlalu lambat.

Life 3.0 adalah AI mesin murni tanpa unsur manusia. Seperti eksplorasi ruang angkasa, Cassini Orbiter tanpa awak. Manusia adalah beban. Mempertahankan sistem kehidupan manusia sangat merepotkan. Efisiensi manusia terlalu rendah. Ruang untuk peningkatan sangat terbatas.

Mesin AI murni terbebas dari belenggu darah dan daging manusia sehingga memiliki banyak potensi dan jauh lebih praktis.

Jika suatu hari, AI benar-benar memiliki semua kecerdasan manusia dan dapat merancang generasinya sendiri yang lebih hebat dari generasi ke generasi, bisa dibayangkan akan seperti apa nantinya. Ketika Life 3.0 kembali memandangi kita, maka akan seperti kita manusia memandang makhluk di Life 1.0.

Just like grandma says, jika AI atau kecerdasan buatan di Life 3.0 benar-benar muncul, AI akan menjadi penemuan terakhir umat manusia. Sejak saat itu, penciptaan atau penemuan baru berikutnya mungkin tidak membutuhkan kita lagi.

Untuk mempelajari lebih lanjut tentang perkembangan teknologi terkini, bisa menelusuri: https://artificialintelligenceindonesia.com/

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan