Pencarian populer

Hal-hal yang Sudah bisa Dilakukan oleh Robot dan Kecerdasan Buatan (1)

Zaman sekarang ini hidup kita sudah tidak bisa lepas lagi dari bantuan robot dan kecerdasan buatan. Mulai dari telepon pintar sampai kereta tak bermasinis, mulai dari mencuci pakaian sampai mengambil gambar bumi dari luar angkasa.

Meskipun begitu ada aktivitas-aktivitas yang mungkin kamu tidak sadar bahwa robot dan kecerdasan buatan sudah bisa melakukannya.

Beberapa dari mereka sangat mengkhawatirkan seolah-olah akan menggantikan eksistensi manusia di muka bumi ini. Namun, banyak dari teknologi-teknologi tersebut yang diciptakan tulus untuk membantu kehidupan manusia. Apa saja hal-hal baru yang bisa mereka lakukan?

Menulis cerita

Mungkin manusia tidak perlu takut bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan semua pekerjaan manusia, terutama pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan pemikiran kompleks seperti misalnya jurnalistik. Untuk menciptakan sebuah cerita atau sebuah artikel yang baik, otak manusia dibutuhkan untuk berpikir dan melaporkan informasi-informasi penting dalam bentuk tulisan yang koheren, terstruktur, dan mudah dimengerti oleh banyak orang.

Telah ada beberapa percobaan untuk menciptakan robot yang mampu menulis artikel, namun belum ada yang pernah berhasil. Alasan utamanya adalah keterbatasan kemampuan kecerdasan buatan.

Namun, hal tersebut telah berubah. Perusahaan media The Washington Post telah berhasil memperkerjakan sebuah robot yang mampu menulis sebaik jurnalis mereka yang paling handal. Nama dari teknologi tersebut adalah Heliograf. Yang dibutuhkan oleh Heliograf untuk menulis adalah beberapa frase yang berhubungan dengan topik yang sedang dibahas dan database berita mengenai topik tersebut, terutama berita-berita terbaru. Hal tersebut cukup untuk membuat Heliograf untuk bisa menulis.

Menjadi polisi

Robot polisi di Mall Dubai. Sumber gambar: middleeasteye.net

Pernah menonton film lama RoboCop? RoboCop adalah karakter fiktif yang merupakan kombinasi antara manusia dan robot di masa depan. Meskipun RoboCop tidak sepenuhnya robot, namun otak manusianya yang dikombinasikan dengan robot membuatnya menjadi polisi yang dapat bertarung sampai mati.

Banyak dari kita mungkin mengira bahwa RoboCop akan benar-benar ada di masa yang akan datang. Jawabannya iya dan tidak karena ternyata RoboCop memang sudah ada sekarang. Kota Dubai telah menugaskan robot untuk ikut beroperasi dalam satuan kepolisian di jalan-jalan di Dubai. Menariknya robot-robot ini juga dinamai Robocop.

Jika kamu berpikir bahwa Robocop tidak dapat melakukan banyak hal, kamu salah besar. Robot yang dikembangkan oleh Google dan IBM Supercomputer Watson ini sudah dapat melakukan beberapa hal. Robocop mampu mengidentifikasi kejahatan, pelanggaran pada plat kendaraan, melaporkan tas yang ditinggalkan tanpa pengawasan di ruang publik, dan masih banyak lagi.

Robocop diciptakan sebagai bagian dari rencana kota Dubai untuk memiliki 25 persen robot dalam satu kepolisiannya pada tahun 2030. Sejauh ini tidak ada rencana untuk memberikan senjata pada Robocop karena kita tidak ingin suatu saat nanti ada robot yang menodongkan senjata ke arah manusia. Sebaliknya, teknologi ini dapat membantu negara-negara yang memiliki kekurangan sumber daya manusia dalam satuan kepolisiannya.

Berbohong dan curang

Kita percaya bahwa berbohong, curang, dan sifat-sifat buruk lainnya merupakan sifat-sifat manusia yang tidak dapat ditularkan kepada mesin atau robot. Meskipun sebelumnya manusia telah berusaha menciptakan kecerdasan buatan yang mampu berbohong, namun mesin-mesin tersebut tidak mampu belajar berbohong sendiri melainkan harus didesain untuk bisa berbohong.

Ada kasus dimana ternyata kecerdasan buatan bermain curang sendiri. Beberapa peneliti membuat robot yang mampu bermain game lama Sonic. Misi dari robot tersebut adalah cukup sederhana yaitu bisa naik level secepat mungkin dan berhati-hati agar tidak dikalahkan oleh lawan. Secara mengejutkan, robot tersebut berusaha untuk menang namun dengan melakukan beberapa kecurangan meskipun mereka tidak didesain untuk curang.

Sementara pada kasus lain yang melibatkan peneliti dari Stanford dan Google, sebuah kecerdasan buatan didesain untuk mengonversi gambar pada Google Maps yang diambil dari atas menjadi sebuah peta jalan. Kecerdasan buatan tersebut menyembunyikan beberapa informasi dalam sinyal yang tidak terdeteksi dengan frekuensi yang tinggi.

Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan