Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Dokter Mariya, Pahlawan di Pedalaman Jambi dan Riau

Mariya (kiri) yang berbaur dengan masyarakat rimba. Foto: Ist

Jambikita.id – Tak banyak perawat, bidan, apalagi dokter yang mau bekerja melayani masyarakat suku pedalaman yang tinggal di tengah hutan, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Bukan tanpa alasan. Mereka harus rela hidup dengan penghasilan kecil, ancaman binatang buas, tanpa smartphone, dan jauh dari akses listrik. Siapa yang bakal sanggup?

Tentu tak banyak juga orang yang mau bercengkrama dengan komunitas adat—Orang Rimba atau suku anak dalam (Jambi) dan Talang Mamak (Riau)—yang kerap dipandang kolot dan masih primitif. Apalagi, ikut berbaur menjadi bagian dalam komunitas mereka.

Namun, Mariya Kristiana Norad adalah anomali. Ia rela mengambil semua risiko itu, mengabdikan diri melayani kebutuhan kesehatan suku-suku yang terbelakang tersebut, tinggal bersama mereka di hutan, dan tentu saja jadi bagian dari komunitas tersebut.

Perempuan muda berdarah Jawa kelahiran Kabupaten Semarang, 18 Oktober 1988, ini sempat nyaris menyerah. Namun, ia nyatanya sanggup bertahan hingga sekarang.

Cerita Mariya sesungguhnya akan bermuara pada pelayanan kesehatan yang merata dan berkeadilan, masih jauh panggang dari api.

Perlindungan untuk Komunitas Adat

Peranan pemerintah harus hadir untuk memberikan perlindungan bagi komunitas adat. Tidak hanya berupa layanan kesehatan langsung, namun juga perlindungan sumber daya alam yang menjadi sumber penghidupan mereka. Orang Rimba maupun Talang Mamak sama-sama menggantungkan hidupnya dari hutan.

Perubahan lingkungan secara masif sejak 1970-an hingga medio 1980-an terjadi pada era transmigrasi. Ditambah alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit. Luas tutupan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dari ratusan ribu hektare, kini tinggal 60.500 hektare.

Data Eye On The Forest menyebutkan, pada 2000, tutupan hutan Riau tersisa 41 persen. Kondisi ini berimbas pada wilayah hidup Talang Mamak. Transmigrasi pemerintah pun jadi menambah masalah.

Sekitar 1980-an, para pendatang turut mengikis wilayah Talang Mamak. Setelah menjadi taman nasional, luasnya tinggal 143.143 hektare.

Laju alih fungsi lahan ini bukan tanpa risiko. Baik Orang Rimba maupun Talak Mamak hidup dari alam. Persediaan makanan mereka satu dekade terakhir menurun tajam.

Mereka kehilangan hewan buruan dan pangan lokal, seperti gadung dan benor. Kurangnya asupan pangan yang cukup, membuat daya tahan tubuh melemah. Sekarang komunitas adat ini terancam serangan beragam jenis penyakit.

"Tutupan hutan yang menipis, membuat persediaan pangan menurun. Dampaknya beragam jenis penyakit menyerang Orang Rimba dan Talang Mamak," kata Manajer Komunikasi KKI Warsi, Sukma Reni, kepada Jambikita.id, belum lama ini.

Keberadaan dokter rimba, sambung Reni, begitu penting. Setidaknya, mereka dapat mendeteksi dini penyakit berat dan mengobati penyakit ringan. Sayangnya, hanya segelintir dari perawat, bidan maupun dokter yang mau bekerja di dalam hutan, merawat Orang Rimba dan Talang Mamak.

Kehadiran dokter rimba seperti Mariya, lanjut Reni, sangat membantu penanganan serangan penyakit pada komunitas adat yang jauh dari perhatian pemerintah. Selain meningkatkan literasi kesehatan terkait pola hidup bersih dan sehat, pengobatan, dan pemeriksaan ibu hamil, juga melakukan advokasi kesehatan kelompok rentan ini.

Untuk mendukung keberadaan dokter rimba, kata Reni, KKI Warsi telah bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman untuk melakukan penelitian.

“Kami pun menemukan kasus penyakit malaria, prevalensinya 24 persen. Sedangkan prevalensi HbsAg (+) pada populasi dewasa 33,9 persen untuk kasus hepatitis,” katanya.

Ancaman penyakit tentu tidak hanya malaria dan hepatitis, tetapi ada juga demam berdarah, gizi buruk, tuberkulosis (TB), dan penyakit mematikan lainnya. Bahkan angka kematian dari penyakit ini cukup tinggi. Hal ini yang menjadi motivasi Mariya, terjun ke dalam rimba berperang dengan virus-virus penyakit dan segala keterbatasan.

Dianggap Melawan Kepercayaan

Baik Orang Rimba maupun Talang Mamak, sama-sama memiliki keahlian 'dewa obat' alias meramu akar-akaran dan dedaunan jadi obat-obatan tradisional. Di kantor KKI Warsi pada Rabu siang (8/5/2019), Maria mengatakan bahwa bahkan mereka memiliki ritual pengobatan untuk menyembuhkan penyakit berat.

Dengan demikian, masuknya dokter rimba dipandang akan merontokkan kepercayaan dan pengetahuan mereka tentang obat-obatan yang turun-temurun diwariskan nenek moyang selama ribuan tahun.

Mariya membutuhkan waktu 2 tahun untuk akrab dengan kelompok Talang Mamak di Bukit Tigapuluh. Sebagai pembawa misi kesehatan dan hidup bersih, tentu bertentangan dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat. Termasuk bertentangan dengan urusan kepercayaan.

Jebolan D3 Kebidanan itu mengatakan, penolakan kelompok Talang Mamak yang meliputi beberapa spot, seperti di Dusun Air Bomban, Sadan, Swit, Nunusan, Bengayoan, dan Semaratihan karena mereka punya obat-obatan tradisional dan dukun hantu. Misalnya, sakit TB atau batuk darah, mereka lebih suka berobat ke dukun, begitu juga penyakit lainnya.

Mariya pun melebur bersama mereka. Dia masuk dapur, membantu ibu-ibu memasak. Kemudian memakan apa yang mereka makan. Hidup dengan cara mereka, tanpa batasan. Cara lain, Mariya mengumpulkan anak-anak, membentuk pasukan dokter cilik.

“Mereka bertugas 'mendidik' orang tuanya cara menyikat gigi, cuci tangan sebelum makan, mandi dengan sabun dan tidak merokok dekat dengan anak-anak terutama balita,” ujarnya.

Sementara untuk Orang Rimba, berkat perjuangan Mariya dan berbagai pihak, wilayahnya sudah diakses oleh segudang fasilitas kesehatan. Bahkan, KKI Warsi telah memfasilitasi dengan menggandeng lembaga Eijkman, yang menelurkan program penelitian tentang malaria dan hepatitis.

Berbeda dengan wilayah Talang Mamak yang baru memasuki tahap rintisan. Ini yang membuat Mariya lebih terkonsentrasi di Talang Mamak dibanding Orang Rimba. Perbandingannya signifikan.

“Dalam sebulan. Saya berada di Talang Mamak tiga minggu dan Orang Rimba satu minggu,” kata perempuan berdarah Jawa ini.

Tentang Sepotong Kue Ulang Tahun

Awal cerita Mariya mengabdi kepada komunitas adat adalah tepat sehari sebelum ulang tahunnya di bulan September 2015. Pertama masuk rimba sedang musim asap karena kebakaran hutan. Untuk memberikan kesan pertama yang baik, dia pun berniat merayakan ulang tahun bersama komunitas Talang Mamak.

Sepotong kue ulang tahun dibawa Mariya saat pergi ke hutan. Perjalanan menuju Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), tepatnya di Lemang, desa terakhir yang dapat diakses dengan sepeda motor.

Selanjutnya, ia mengarungi Sungai Gangsal dengan perahu motor. Apabila debit air tidak surut, maka perjalanan tiga jam. Namun karena musim kemarau, perahu motor tak dapat melaju. Mariya pun berjalan kaki selama delapan jam, untuk menemui 12 KK komunitas Talang Mamak di dusun Nunusan, kata Mariya.

Mariya bersama anak-anak suku pedalaman. Foto: Ist

Perdana ke Nunusan, Mariya ditemani Fasilitator KKI Warsi untuk Komunitas Talang Mamak, yaitu Surana. Awal perjalanan dilalui dengan canda-tawa dan keringat yang mengucur di badan.

Saat malam menjelang, mereka belum kunjung sampai ke Nunusan. Perjalanan sudah lebih 12 jam. Barang bawaan seperti peralatan medis, obat-obatan, dan kue ulang tahun terasa amat berat. Rasa putus asa sempat menyelinap dalam gelap.

Mariya mulai gelisah. Hatinya kecilnya berbisik, 'apakah pekerjaan seperti ini yang benar-benar dia inginkan?' Medan berat, hewan buas, tanpa sinyal dan listrik harus dirasakan saban hari. Ia juga sempat berujar akan menyerah dan menangis.

Namun, Tuhan berbisik melalui Surana. “Mariya, kalau kita pulang dan menyerah, maka sia-sialah kue ulang tahun yang kau bawa, bukankah kamu berniat memakan kue ulang tahun itu bersama mereka,” kata Surana lirih.

Entah kekuatan apa yang merasuk melalui perkataan itu. Mariya yang tadinya lemas dan menangis, bangkit. Tenaganya bertambah berkali-kali lipat.

Mereka akhirnya tiba di Nunusan larut malam. Esok hari, kabar kedatangan dokter rimba telah tersiar. Sebagian kelompok Nunusan antusias melakukan pemeriksaan penyakit ringan, seperti flu dan pilek, hingga seputar kehamilan.

Penerimaan terhadap Mariya cukup hangat. Kobaran semangat Mariya pun menyala-nyala. Untuk melakukan pengobatan dasar komunitas adat semakin besar. Pengobatan hari itu, diakhiri dengan doa bersama atas perayaan ulang tahun Mariya dan makan sepotong kue.

Mariya Jatuh Cinta kepada Orang Rimba

Deforestasi masif membuat Orang Rimba tak lagi berdaulat dalam pangan. Sebelumnya untuk mendapatkan makanan, Orang Rimba cukup berburu dan meramu sehari. Hasilnya bisa makan satu keluarga untuk waktu seminggu. Dan ini membuat ketahanan tubuh Orang Rimba terus terjaga. Sekarang semua telah berubah.

Beragam penyakit mengancam 2.000-an jiwa Orang Rimba dari 14 kelompok ketemenggungan. Dia pun terus mengedukasi Orang Rimba untuk mandiri dan berdaulat dalam kesehatan.

Meskipun tidak semua Orang Rimba meninggalkan rokok, namun beberapa orang telah berhenti. Bagi yang merokok pun, kata Mariya, tidak lagi menghisapnya dekat dengan anak-anak.

Meskipun Mariya lebih banyak menangani kelompok Talang Mamak, dan hanya seminggu di Orang Rimba, namun dia merasa telah jatuh cinta dengan mereka. Sebagian besar telah percaya dengan dokter rimba dan telah tumbuh kesadaran untuk hidup sehat.

Sebentarnya Mariya di Orang Rimba bukan tanpa alasan. Sebab di sana, akses pelayanan kesehatan sudah cukup mudah. Setelah Mariya bekerja sama dengan puskemas terdekat, beberapa hari dalam seminggu para petugas menyebar ke hutan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kepada Orang Rimba.

Talang Mamak Masih Rintisan

Merawat kelompok Talang Mamak tidak membuatnya tinggal pada titik tertentu. Mariya saban hari harus melakukan perjalanan dengan perahu motor untuk menyentuh seluruh komunitas.

Pada setiap perjalanannya selalu ada yang memintanya mampir untuk melakukan pemeriksaan. Kadang kala pengobatan dilakukan di perahu di atas sungai. Namun itu sekarang, tidak untuk awal-awal dulu.

Dulu, sebagian besar kelompok Talang Mamak menilai, obat-obat asing yang diberikan Mariya bisa saja membunuh mereka. Mariya adalah orang yang akan melunturkan kepercayaan mereka, tentang ritual pengobatan, ramuan tradisional, dan pengetahuan lokal.

“Intinya mereka belum percaya saya. Dan itu membuat saya merasa tidak berguna,” kata Mariya. Namun titik balik mulai menyala, saat ada anak kecil yang menderita sesak napas. Mereka menolak Mariya, yang bersikukuh membawanya ke puskesmas dengan alasan tidak ada biaya untuk transportasi.

Tidak pikir panjang, Mariya menjamin seluruh biaya transportasi. Dia menjelaskan kepada keluarga yang sakit bahwa sakitnya harus segera ditangani agar tidak terjadi sesuatu yang menyedihkan. Akhirnya, keluarga mengizinkan.

Bulir-bulir kristal menganak sungai dari kelopak mata Mariya. Dia mengenang masa-masa penuh kebanggaan menjadi manusia berguna. Kala itu, dia berhasil menyelamatkan anak kecil yang menderita sesak napas.

"Terlambat lima menit saja, kita tidak bisa berbuat banyak," Mariya menirukan suara dokter puskesmas.

Selamatnya anak kecil dari sesak napas itu membuat Mariya diterima kelompok Talang Mamak. Semua penyakit yang tidak bisa ditangani dukun hantu langsung dibawa ke dokter rimba, yakni Mariya. Untuk penyakit ringan, semua sudah percaya berobat ke Mariya.

Mariya menangis haru kala itu dan bahagia bukan kepalang. Kelompok Talang Mamak dengan kisaran 400 jiwa ini, setidaknya sudah tersentuh ilmu medis.

Tangisan Mariya tidak hanya tentang kebanggaan, ada juga ketidakbergunaan. Pertengahan 2017, Mariya membawa penderita TB ke puskesmas. Medan yang berat dan waktu tempuh yang lama, membuat nyawa pasien tidak tertolong.

“Saya merasa bersalah. Merasa tak berguna. Tapi mereka (keluarga penderita) menghibur saya,” kata Mariya. Mereka membuat saya kuat lagi.

Merujuk dari kejadian itu, Mariya memperluas koneksi. Dia menjalin kerja sama dengan pemerintah dan Fakultas Kedokteran Universitas Jambi (Unja) serta puskesmas yang mudah diakses kelompok Talang Mamak.

"Tidak hanya meningkatkan literasi mereka terkait pola hidup bersih dan sehat, tetapi mengadvokasi mereka, agar diterima di rumah sakit," kata Mariya menjelaskan.

Advokasi tidak hanya membawa mereka berobat gratis ke rumah sakit, melainkan mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkeadilan. Di antaranya, sambung Mariya, pengobatan/pemeriksaan rutin, imunisasi, pil kaki gajah, makanan tambahan bergizi.

Sejauh ini, Mariya tetap bekerja sendirian. Dia sempat semangat, ada beberapa mahasiswa kedokteran Unja, mau masuk ke dalam rimba. Namun sayang tidak lama, hanya beberapa minggu saja.

Kemudian, Mariya merayu petugas puskesmas untuk turut membantu Mariya, namun mereka belum sanggup untuk tinggal dalam hutan. "Perbedaan budaya dan kepercayaan kerap menjadi alasan klasik," tutur Mariya dengan nanar.

Sebenarnya dengan banyaknya dokter rimba, tentu lebih mudah mengakses seluruh kelompok Talang Mamak. Hal ini berpotensi menurunkan risiko kematian.

Sebab, kata Mariya, 5 dari 10 ibu-ibu yang melahirkan berujung meninggal dunia. Kalau tidak ibunya, ya bayinya. Meskipun tidak ada petugas yang mau menetap di lapangan, perlahan pihak pemerintah sudah menggratiskan biaya perobatan.

“Itu cukup membuat saya senang,” kata Mariya dengan senyum penuh harapan.

Meskipun bekerja di jalan sunyi, tak membuat Mariya patah arang. Mandi bersama anak-anak, memasak hewan buruan bersama-sama, seminggu tanpa cahaya--saat ada kematian--menjadi hiburan paling istimewa bagi Mariya.

Begitulah cerita sang dokter rimba, perkara menyelamatkan nyawa harus berlomba dengan waktu, tenaga, biaya, dan mental yang kuat.

Mariya pun berkelakar, "kalau dokter lain tak mau, ya sudah. Menjadi dokter rimba itu berat, biar aku saja," kata Mariya sambil tertawa dan berakting menjadi Dilan. (suwandi)

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan